Ayo Menuliskan Aceh di Internet

Dunia terhenyak atas musibah tsunami yang melanda Aceh dan Nias serta sejumlah negara akibat gempa bumi di Samudera Hindia pada 26 Desember 2004. Perdamaian antara pemerintah Republik Indonesia dengan Gerakan Aceh Merdeka yang difasilitasi melalui penandatangan MoU Helsinski pada 15 Agustus 2005 membuka lembaran baru masyarakat Aceh yang lama didera konflik berkepanjangan. Dukungan masyarakat baik nasional maupun internasional dalam proses rehabilitasi dan rekonstruksi Aceh merupakan titik balik sekaligus peristiwa yang monumental bagi kemanusiaan. Inilah masanya bagi Aceh untuk memperkenalkan identitas dan pesonanya kepada dunia.

Aceh, konon kata ini berasal dari perpaduan budaya-budaya dunia yang pernah menghiasi kekayaan sejarah negeri ini; Arab, Cina, Eropa dan Hindustan (India). Jejak-jejak peradaban besar ketika Kerajaan Islam Aceh menjadi satu dari lima negara adidaya Islam dunia pada masanya masih bisa ditemukan dengan kesungguhan upaya penggalian sejarah. Kedekatan Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Turki Utsmani ratusan tahun silam juga terus dikaji oleh para sejarawan dari berbagai belahan dunia.

Kekayaan sejarah dan warisan budaya Aceh kini kembali digali secara serius. Belum lama ini masyarakat Aceh menyambut gembira atas anugerah sebagai Destinasi Budaya Ramah Wisatawan Muslim Terbaik (Best Halal Cultural Destination) di ajang World Halal Tourism Award (WHTA) 2016 yang lalu. Upaya serius yang diprakarsai Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh melalui peluncuran rebranding wisata halal Aceh dengan slogan “The Light of Aceh” dan “Pesona Cahaya Aceh” merupakan semangat baru bagi pengembangan wisata religi, sejarah dan budaya di Aceh. Selayaknya, penghargaan tersebut dapat mendorong semangat kita untuk kembali menggali kekayaan sejarah dan warisan budaya Aceh.

Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) merupakan salah satu bukti semangat dan upaya atas penggalian kekayaan sejarah dan warisan budaya Aceh. Serbuan media informasi mungkin membuat masyarakat menjadi abai terhadap kekayaan sejarah yang dimilikinya. Satu per satu jejak kekayaan sejarah dan warisan budaya yang tercerai berai tersebut disatukan kembali oleh para pejuang MAPESA melalui kegiatan “Meuseuraya” atau gotong-royong. Batu-batu nisan berusia ratusan tahun dibersihkan dan dikaji kembali berbagai ukiran yang terdapat padanya.

Sebut juga kisah kolektor muda naskah kuno (manuskrip) bernama Masykur. Mahasiswa Fakultas Adab Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry Jurusan Sejarah Kebudayaan Islam ini sudah mulai mengoleksi naskah kuno sejak masih duduk di bangku Sekolah Menengah Tingkat Atas. Menurut Masykur, setidaknya dibutuhkan tiga referensi untuk dapat membandingkan sebuah pernyataan atau peristiwa sejarah. Tidak jarang Masykur menelusuri naskah kuno ke pusat-pusat penelitian seperti Museum Aceh dan bahkan ke masjid-masjid bersejarah di pelosok desa.

Kekayaan budaya Aceh lainnya adalah keharmonisan dan toleransi antar perbedaan suku, agama dan ras di Aceh yang telah berlangsung sejak berabad lamanya. Kondisi ini membuktikan bahwa keberagaman dan toleransi terus berjalan di sebuah negeri syariat Islam — meskipun sepi dan seakan terus ditepikan dari pemberitaan media. Gerakan menuliskan Aceh di internet merupakan upaya lainnya yang dapat kita lakukan untuk memperkenalkan keindahan pesona budaya dan keberagaman yang berlangsung dengan harmonis di Aceh. Ayo menuliskan Aceh di Internet!

Banda Aceh, 9 Februari 2017

11849_10201822605147715_265960639_n
Sosialisasi Banda Aceh Blog Competition 2014: Ayo Menuliskan Aceh Ban Sigom Donya
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s