Lu Kan Anak IT!

“Lu Kan Anak IT”. Kalimat-kalimat dalam video iklan berdurasi kurang dari dua menit itu menunjukkan sebuah profesi yang terduga serba bisa. Di satu sisi, profesi sebagai “anak IT” begitu populer dalam dua dekade belakangan ini. Sejak zaman warnet dulu, sampai gadget canggih ala agen rahasia yang super tipis nan praktis dibawa ke mana saja. Bahkan bisa jadi sebelum era tersebut, meskipun dalam bentuk teknologi informasi yang lebih jadul.

bb835-p_20150318_183024_hdr

Faktanya “anak IT” berkali-kali lolos dari “perangkap sejarah” yang menyebabkan mereka menjadi “terduga selalu update”. Saya sendiri bukanlah anak IT. Namun lingkungan saya kerap bersinggungan dengan mereka.
Mau print spanduk komunitas atau brosur organisasi, masih belum bisa design sendiri. Pastilah ujung-ujungya nyari anak IT. Laptop harus diinstall ulang atau printer harus dibawa masuk ke bengkel, ujung-ujungnya nyari “anak IT”.

Orang yang dimaksud anak IT itu adalah ahli service yang sangat sabar mengajariku cara merawat printer atau laptop. Sangat jarang ada orang yang mau memberikan layanan purna jual seramah itu. Walhasil printer yang dulu suka bolak-balik berulang kali seperti mahasiswa ngulang mata kuliah sekarang jadi jarang bermasalah.

Dulu, lebih dulu lagi, orang yang disebut “anak IT” itu adalah abangku sendiri. Asal printer sudah nggak mau hidup, mungkin ada kabel yang kurang pas terpasang. Istilahnya “kontak” gitu. Aku mulai rewel. Lantas abangku bilang jangan manja, belajar bertanggung jawab.

Aku manggut-manggut. Nggak lama kemudian rasa dongkol dan prasangka burukku pada si printer hilang seketika. Ternyata persoalannya sepele saja. Tapi jangan tanya lagi apa persisnya. Sudah lama sekali itu. Hahaha.

Beberapa tahun silam, saya membaca buku karangan Bill P.S. Lim yang menceritakan bahwa di zaman sekarang kita harus bisa bersiap melakoni lebih dari satu profesi. Lim memgambil contoh Bill Clinton. Dulunya pengacara, lalu jadi presiden. Terakhir melakoni profesi pembawa acara dan pegiat sosial. Dalam buku Dare to Fail (Berani Gagal) itu Lim malah berani memprediksi bahwa di abad ini, seseorang harus siap melakoni 7 profesi atau karier seumur hidupnya.

Anak IT saja, misalnya, tetap harus mengikuti perkembangan zaman. Kemarin masih bisa pakai Corel Draw seri X3, sekarang sudah X7. Windows dulu ngetrem XP, sekarang sudah pakai Windows 8. Akan baru dan terus baru lagi. Bagi kami blogger pun, banyaknya sosial media yang lebih efektif dan menjangkau penggemar memaksa kami untuk membuka akun sosmed dan bisa jadi membuat blog kami merasa dirinya “pensiun dini”.

Well, keterampilan beradaptasi dan meningkatkan kapabilitas diri memang menjadi kunci untuk terus bertahan. Inovasi tiada henti dan saling berbagi terutama dengan mereka yang menularkan semangat berkarya secara positif. Tetap jangan lupa, dunia ini sebuah persinggahan sementara. Jadinya tetap punya perisai hidup apabila impian belum tercapai sesuai harapan. Apa pun profesi atau warna dunia yang kamu tekuni, tetap syukur dan sabar jadi kata kunci pembuka bahagia.

Banda Aceh, 26 Februari 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s