Demi Kau dan Tugas Akhir

Puasa-puasa begini membuka laman percakapan di grup alumni kampus dulu, teringat lagi masa-masa “perjuangan” menuju sarjana. Sekarang aja mahasiswa udah cukup “smart” mengcopy-paste papan tulis ke dalam layar smartphonenya. Dulu? Nggak kebayang, kecuali sekumpulan teman yang paling update ngebahas smartphone kelas alien. Dan aku hanya bisa manyun menyimak perbincangan mereka. Hihihi.

Bicara tugas akhir tak selamanya duka. Tugas akhir ibarat perjalanan antara ruang administrasi ke laboratorium, lalu bimbingan demi bimbingan. Dicoret sana-sini, perbaiki lagi. Membaca ke pustaka lagi. Lalu setelah proposal ditandatangani, naiklah ke ruang seminar. Setidaknya seperti itulah perjalanan tugas akhir kami yang menggeluti salah satu bidang sosial tersebut.

Lalu, penelitian dimulai. Kami tidak diperkenankan mengambil judul deskriptif tapi harus dengan penelitian obesrvatif. Jadilah kami mempelajari SPSS, aplikasi ajaib yang bisa membantu kami menihilkan pemakaian kalkulator untuk menghitung regresi berganda. Kembali ke ruang administrasi untuk mengurus kelengkapan pendukung, naiklah kami ke ruang sidang tugas akhir.

Begitu saja. Sederhana. Seharusnya seperti itu.

Hanya dalam perjalanannya memang kita menyadari butuh dukungan semua pihak. Untuk itu tidak hanya kemampuan akademik, tapi juga kemampuan interpersonal untuk membangun hubungan baik. Terutama dengan orang-orang yang terlibat dalam perjalanan menuju sidang akhir.

Kadang, keterlambatan malah mempertemukan dengan opsi-opsi.yang lebih baik. Mencoba untuk berbaik sangkalah, manakala segala upaya yany dilakukan masih belum berbuah seperti yang diharapkan. 

Satu yang perlu dicatat, dalam dunia akademik sebenarnya berlaku hukum “lebih cepat selesai, lebih baik”. Ya, saya rasa itu tidak perlu dijelaskan lagi ya, masing-masing sudah bisa memahami sesuai dengan perkembangan dan kondisi global saat ini.

Memang, di atas semuanya, ada pula hal-hal yang tak diharapkan kadang hadir. Ada yg sudah berupaya membangun komunikasi sebaik mungkin, namun yg diajak berkomunikasi malah abai dengan kewajibannya memberi layanan. 

Ada pula disebabkan lantaran tak mampu berbagi waktu entah karena keterikatan tanggung jawab dan pekerjaan atau hal lainnya sehingga akhirnya tugas akhir dikorbankan. Bermacam-macam sebabnya.

Semoga buat kamu yg sedang berjuang menyusun tugas akhir dimudahkan segala urusannya. Doakan juga buat saya yg sedang penyusunan tugas akhir untuk thesis. Saling mendoakan lah ceritanya. Mumpung ramadhan doa-doa pada makbul yaa.

“Skripsi yang baik adalah skripsi yang selesai” (Anies Rasyid Baswedan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s